Artikel Laporan Penelitian 2008

LAPORAN PENELITIAN

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES BELAJAR

MAHASISWA S1 PGSD PROGRAM PMPTK UNIVERSITAS TERBUKA

DI UPBJJ UT BENGKULU

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan pada semua jenjang dan jalur pendidikan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Upaya yang dilakukan meliputi penyediaan sarana dan prasarana serta peningkatan kualifikasi guru. Penyediaan sarana dan prasarana sudah lama berjalan dan mulai tampak hasilnya. Berdirinya sekolah baru, bertambahnya ruang kelas baru serta bantuan buku paket adalah realisasi dari peningkatan sarana dan prasarana.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan peningkatan kualitas dan kualifikasi guru. Salah satu cara yang dilakukan adalah meningkatkan kualifikasi pendidikan guru minimal S1 atau D4. Departemen Pendidikan Nasional Pusat melalui Dirjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan) bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional di tiap-tiap provinsi pada tahun 2007 menyalurkan subsidi untuk peningkatan kualifikasi S1/D4 tahun 2007 sejumlah 170.000 guru baik PNS maupun Non PNS (GTT dan GTY ) yang berada di bawah binaan Depdiknas pada TK, SD, SMP, SMA, SMK dan PLB negeri dan swasta yang sedang mengikuti pendidikan S1 atau D4 di LPTK/PT terakreditasi.

Di Provinsi Bengkulu, Universitas Terbuka melalui UPBJJ-UT Bengkulu, yang merupakan salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang telah terakreditasi dan memperoleh izin penyelenggaraan pendidikan bagi Guru Pendidikan Dasar (D2-S1) mendapat kepercayaan untuk berpartisipasi mensukseskan program peningkatan kualifikasi tersebut. Sebanyak 2988 orang guru di kota dan delapan kabupaten telah mengikuti program tersebut. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan sistem belajar jarak jauh (SBJJ) dengan mengedepankan konsep belajar mandiri dengan disediakan bahan ajar/buku materi pokok (BMP) dan juga adanya layanan bantuan belajar berupa program tutorial tatap muka (TTM).

Dari sejumlah 2988 orang guru tersebut sejumlah 2524 orang merupakan penerima subsidi PMPTK untuk program Pendidikan Dasar (PGSD, PAUD dan PGTK). Rincian perkabupaten dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Rekapitulasi Penerima Subsidi PMPTK Pendas UPBJJ-UT Bengkulu Tahun 2007 (angkatan 2007.1)

No

Kabupaten/Kota

TOTAL

1

Seluma

252

2

Rejang Lebong

337

3

Mukomuko

238

4

Lebong

173

5

Kota Bengkulu

354

6

Kepahiang

214

7

Kaur

180

8

Bkl. Selatan

297

9

Bengkulu Utara

479

Total

2524

Sumber data = Database SRS Pendas 2008

Dengan melihat tabel di atas dapat terlihat bahwa keberadaan mahasiswa program pendas tersebar ke sembilan wilayah Provinsi Bengkulu. Berdasarkan letak geografis, potret keterjangkauan wilayah kerja UPBJJ-UT Bengkulu mengindikasikan 68% ditempuh melalui jalan darat dan menginap (UPBJJ-UT Bengkulu, 2008). Masalahnya adalah sebagian dari para guru tersebut tinggal di daerah pelosok dan ada pula yang tinggal di daerah terpencil. Para guru yang berada di daerah pelosok yang kondisi jalannya sulit, becek, dan licin seringkali tingkat kehadirannya rendah, sering terlambat, atau ingin cepat pulang jika sore hari terlihat mendung. Selain itu, tingkat partisipasi mahasiswa masih rendah, modul yang ditugaskan untuk dibaca seringkali belum dibaca, tugas-tugas yang dikerjakan juga kurang memenuhi standar kualitas. Ironisnya, mahasiswa menuntut hasil belajar yang maksimal dalam penilaian yang diberikan oleh para tutor. Kondisi ini cukup memprihatinkan bagi para pengelola dan tutor.

Oleh karena itu, perlu penelitian untuk menemukan faktor-faktor apa saja yang berkorelasi dengan proses belajar dalam pencapaian hasil belajar yang maksimal. Diharapkan, jangan sampai terjadi, semua guru telah lulus S1 tetapi kinerjanya tidak ada peningkatan. Hal itu untuk mengantisipasi globalisasi informasi dan perkembangan ilmu teknologi yang cepat, yang menuntut para pendidik untuk selalu meningkatkan kompetensi pedagogik, pribadi, sosial, maupun profesionalnya. Intinya, para guru diharapkan mampu memfasilitasi para siswanya untuk mampu mewujudkan: “Learning to know, learning, to do, learning how to learn, ……. learning to be (bermanfaat), learning to live together” (Hatimah dkk, 2007) dalam situasi dan kondisi dunia yang selalu berubah dengan cepat.

Kompetensi di atas penting dikembangkan mengingat perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat pesat diikuti dengan globalisasi informasi, ekonomi, sosial, budaya membawa dampak terhadap beragam aspek kehidupan, baik positif maupun negatif. Untuk meningkatkan pemanfaatan secara optimal kemajuan ilmu dan teknologi tersebut serta mencegah dampak negatifnya, maka para pendidik perlu selalu meningkatkan kemampuannya. Dengan cara seperti itu para guru dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi beragam tantangan baru yang terjadi. Selain itu, guru perlu mempersiapkan anak didiknya, yaitu para siswa Sekolah Dasar (SD), agar para lulusannya nanti siap dan dapat survive untuk menerima berbagai perubahan yang sangat cepat, yang penuh tantangan, tekanan dan kompetisi sehingga mereka dapat menjalankan fungsi kehidupannya dengan keteguhan hati dan rasa aman, sebagaimana dijelaskan di dalam tujuan pendidikan nasional pada UURI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas BAB II Dasar, Fungsi, dan Tujuan Pasal 3 sebagai berikut:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Beranjak dari kenyataan tersebut, Universitas Terbuka (UT) membuka Program S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebagai lanjutan D-II PGSD. Program S1 PGSD dimaksudkan memberi peluang kepada guru SD untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri menjadi guru SD yang professional. Profesionalisme guru SD antara lain berwujud dalam penugasan yang luas dan mendalam tentang sistem dan proses pembelajaran di SD, sekaligus keahlian dalam bidang studi yang diajarkan di SD (Buku Panduan S1 PGSD 2001).

Dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan lulusan program PGSD, khususnya S1, maka upaya eksplorasi dan penelitian tentang sejauh mana faktor-faktor yang mempengaruhi (mendukung maupun menghambat) proses belajar mahasiswa dalam pencapaian hasil belajar yang maksimal ini perlu dilakukan.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1.2.1.1 Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat proses belajar dalam pencapaian hasil belajar yang maksimal para mahasiswa S1 PGSD UT UPBJJ Bengkulu, angkatan 2007.1?

1.2.1.2 Bagaimana sebaran nilai mata kuliah mahasiswa S1 PGSD UT UPBJJ Bengkulu tahun angkatan 2007.1 di tahun 2008?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang mendukung dan menghambat tingkat keberhasilan belajar mahasiswa S1 PGSD di Provinsi Bengkulu yang pesertanya adalah para guru SD. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan lembaga, baik untuk perancangan proses pembelajaran, pengelolaan pada tingkat kelas, program, maupun UT pusat. Secara lebih rinci tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan masukan tentang faktor-faktor yang mendukung proses pembelajaran, proses tutorial, dan prestasi belajar mahasiswa S1 PGSD.

1.4 Pentingnya dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi aspek penghambat dan pendukung proses belajar yang dilakukan mahasiswa dan proses pembelajaran yang dilakukan dosen saat tutorial, dan mencari korelasinya dengan hasil belajar akhir, serta dalam penerapan hasil belajar pada proses pembelajaran kepada siswa di kelasnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan terhadap layanan akademik di UT sebagai masukan bagi pengambil keputusan dalam kebijakan UT dan peningkatan kualitas layanan. Penelitian ini juga bermanfaat untuk menunjang program pemerintah dalam meningkatkan kualitas proses pendidikan di sekolah dasar.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Faktor Yang Mempengaruhi Proses Belajar

Weiner (Gedler, 1992) dalam teori atribusinya menjelaskan bahwa keberhasilan atau kegagalan belajar seseorang disebabkan oleh banyak faktor, yang dapat dikelompokkan ke dalam faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal diantaranya ialah kemampuan individu yang berupa kecerdasan dan bakat (yang cenderung stabil), tipe kepribadian, harapan, motivasi internal, kesehatan dan usaha. Sedangkan faktor eksternal diantaranya nilai dan norma yang dianut yang bersumber dan masyarakat (budaya) dan agama, bahan ajar, media strategi dan gaya mengajar guru (tutor), waktu belajar mengajar, motivasi eksternal, reinforcement (penguatan), manajemen, status social ekonomi, konflik keluarga dan sebagainya (Gedler, 1992; Partowisasto & Hadisuparto, 1986).

Bandura (1978) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang (hasil belajar) adalah variable personal (individu) dan lingkungan. Sedangkan Koestoer dan Hadisuparto (1986) dalam bukunya Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar, menguraikan sebab-sebab kesulitan belajar yang menyebabkan prestasi belajar individu rendah, yang dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu (1) kondisi fisiologis yang permanent; (2) kondisi-kondisi fisilogis yang kontemporer; (3) pengaruh lingkungan sosial yang permanent; dan (4) pengaruh lingkungan sosial yang temporer.

Sedangkan menurut Wahudin dkk. (2006) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan suatu sistem yang berusaha mengubah input melalui proses untuk menjadi output sesuai dengan yang diharapkan. Dalam hal ini keberhasilan proses pendidikan ditentukan oleh kedua aspek tersebut. Di dalam aspek pertama, yaitu input, yang dipilah ke dalam tiga jenis yaitu: (1) input mentah (raw input) yaitu peserta didik; (2) input alat (instrumental input) yang berupa kurikulum, pendidik, gedung, sumber belajar, metode dsb; dan (3) input lingkungan (environmental input) yang meliputi lingkungan alam, sosial, budaya, cuaca, kondisi daerah. Keseluruhan input tersebut secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi proses dan hasil pendidikan. Sedangkan pada aspek kedua adalah proses, yang meliputi; jadwal, pengelolaan, isi kurikulum, kualitas pembelajaran yang dilakukan guru, sumber belajar dan fasilitas, teknologi, pengawasan, mutu dan penelitian, serta efisiensi biaya dalam proses pembelajaran. Aspek ketiga dari siswa adalah hasil belajar yang meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor.

Dari aspek proses pembelajaran, gurulah yang memegang peran sentral terhadap keberhasilan proses pendidikan, khususnya bagi proses pendidikan di sekolah dasar. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin rendah tingkat ketergantungan peserta didik terhadap pendidik. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran di UT yang dalam hal ini mahasiswanya adalah para guru SD, digunakan siswa tutorial dengan bahan ajar yang disusun sedemikian rupa, yang memudahkan mahasiswa belajar mandiri. Pada hakikatnya belajar adalah bagaimana peserta didik berinteraksi dengan sumber belajar sehingga tujuan belajar dapat tercapai. Meskipun demikian, tingkat kemampuan mahasiswa beragam, dan oleh karena itu, kemampuan untuk memahami bahan ajar juga berbeda. Selain itu, ada kendala bahasa ataupun belajar yang sifatnya penerapan, maka diperlukan praktik. Oleh karena itu, Tutor disediakan untuk membantu mahasiswa dalam proses belajar.

Masalahnya adalah: “Meskipun sudah disediakan tutorial bagi mereka, ternyata masih banyak pula mahasiswa yang prestasi belajarnya rendah.” Oleh karena itu, perlu dicari sebab-sebab yang mempengaruhi proses belajar mahasiswa yang mengakibatkan rendahnya prestasi belajar mahasiswa tersebut, guna menemukan sebab dan memberikan cara untuk memudahkan mereka belajar sehingga prestasi belajarnya cukup memuaskan.

Dari kutipan di atas jelas bahwa manifestasi mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar diantaranya selain karena potensi yang mereka miliki, dapat terlihat dan sulitnya mereka melakukan konsentrasi belajar dan mengalami masalah membaca lulusan siswa SD yang jika dianalisis berasal dan kinerja para guru. Kinerja guru dapat berasal dan potensi yang dimiliki guru sehingga kurang mantap kemampuannya dalam melaksanakan tugas. Ada kemungkinan potensi personel yang mereka miliki memang sebatas itu.

Hasil penelitian Ismail dkk. (2005) terhadap sampel penelitian sebesar 132 orang calon guru peserta Program S1 PGSD di UPBJJ UT Bengkulu menunjukkan bahwa potensi para mahasiswa, khususnya IQ, menunjukkan rata-rata, dan hanya sekitar 2% IQ mereka berada di atas rata-rata. dengan kondisi yang demikian, apabila lembaga menginginkan kualitas hasil belajar baik, dibutuhkan kerja keras tutor dan pembimbing. Selain itu, budaya daerah yang “mau enak”, artinya mereka ingin proses belajar cepat dan mudah, dan hasil yang baik. Sementara dikaitkan potensi yang rata-rata, hal itu merupakan tantangan tersendiri bagi dosen pembimbing. Dosen yang membimbing dengan sungguh-sungguh, justru dibenci, dianggap mempersulit mahasiswa. Oleh karena itu, diperlukan kiat proses pembelajaran di UT yang mampu menggugah kesadaran mahasiswa untuk mau belajar dan mampu menguasai materi serta menerapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari di kelas, agar dana yang diberikan pemerintah tersebut memberi manfaat yang besar, baik bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya di kelas (kompetensi profesionalnya) sekaligus berdampak pada peningkatan kualitas dan hasil belajar pada siswa-siswanya mencari ijazah atau sertifikat guna memenuhi syarat lulus sertifikasi agar mendapat tunjangan profesi. Akibatnya, jika terjadi hal demikian, maka meskipun rata-rata ijazah guru SD sarjana, kualitas pembelajaran di SD tidak pernah berkembang ke arah yang lebih baik.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah studi eksplorasi, evaluatif dan survey (Ary, Best, Tuckman, 1972). Studi eksplorasi dimaksud untuk mencari faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses belajar mahasiswa, proses pembelajaran tutorial oleh guru, dan korelasinya dengan hasil belajar akhir. Penelitian ini juga dapat dimaksudkan ke dalam penelitian evaluatif karena penelitian ini juga untuk meneliti tingkat keberhasilan proses pembelajaran maupun Program S1 PGSD UPBJJ UT Bengkulu.

3.2 Variabel dan Instrumen Penelitan

Populasi penelitian ini adalah mahasiswa peserta Program S1 PGSD UPBJJ UT Bengkulu angkatan 2007 semester IX (Masukan D-II PGSD) sebanyak 1644 orang guru di Provinsi Bengkulu. Sampel diambil sebanyak 10% dari populasi berjumlah 164 orang mahasiswa UPBJJ UT Provinsi Bengkulu tahun akademik 2007. Sampel akan diambil dari seluruh Kabupaten Kota di Provinsi Bengkulu secara porpusif random sampling (Best, 1997).

Untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang menghambat dan mendukung proses belajar mahasiswa dilakukan dengan menggunakan angket. Sedangkan untuk memperoleh data tentang nilai hasil belajar tutorial dan hasil belajar akhir digunakan studi dokumenter. Data dokumenter bersumber dari Program SRS Pendas dengan menggunakan petunjuk kerja ekspor data dari SRS pendas ke dalam format excel (UM00-PK01; 2007).

Data tentang faktor pendukung dan penghambat proses belajar mahasiswa dan proses belajar mengajar di kelas saat tutorial, serta proses dan hasil penerapan oleh guru berdasarkan hasil belajarnya di UT dianalisis secara persentase dan deskriptif argumentatif (Muhajir, 1989).


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, peneliti menemukan beberapa faktor penghambat dan pendukung yang dihadapi oleh mahasiswa Program PGSD UPBJJ UT Bengkulu tahun angkatan 2007 semester IX (Masukan D-II PGSD) dalam proses tutorial. Jumlah mahasiswa yang mengikuti tutorial sebanyak 2594 orang guru di kota dan delapan kabupaten. Proses pembelajaran dilaksanakan melalui belajar mandiri dengan disediakan buku modul dan juga adanya program tatap muka (tutorial) dengan bantuan dosen.

Dalam penelitian ini melibatkan mahasiswa sebagai narasumber dan informan. Untuk mengumpulkan data-data penelitian, peneliti memberikan kuisioner kepada mahasiswa yang mengikuti tutorial dalam kelas baik dalam kota maupun pokjar-pokjar yang ada di delapan kabupaten di Provinsi Bengkulu. Berikut ini data penyebaran angket per pokjar/ kabupaten/kota.

Tabel 2. Data Sebaran Angket Penelitian

No

Pokjar/Kabupaten/Kota

Jumlah sampel (orang)

1

Tais Seluma

11

2

Curup, Rejang Lebong

10

3

Kepahiang

10

4

Muara Aman, Lebong

10

5

Mukomuko Utara

10

6

Ipuh, Mukomuko

10

7

Kota Bengkulu

11

8

Bintuhan Kaur

10

9

Manna, Bkl. Selatan

10

10

Arga Makmur, Bkl. Utara

10

11

Padang Jaya, Bkl Utara

11

12

Kerkap

10

13

Lais

10

14

Talang Empat

10

15

Putri Hijau

10

16

Ketahun

11

Total

164

Berdasarkan hasil penyebaran angket, tabulasi data tergambar dalam tabel-tabel di bawah ini.

4.1. Faktor yang mempengaruhi Proses Belajar Mahasiswa

Bandura (1978) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang adalah variable personal (individu) dan lingkungan. Dalam kegiatan tutorial tatap muka faktor-faktor ini oleh penulis dijabarkan kedalam 3 faktor pengaruh, yaitu (1) Faktor motivasi internal mahasiswa, (2) Faktor model pendidik (tutor), dan (3) Faktor penunjang kegiatan tutorial. Pembagian jenis faktor ini sesuai dengan dalam teori atribusinya Weiner (Gedler, 1992) bahwa keberhasilan atau kegagalan belajar seseorang disebabkan oleh banyak faktor.

4.1.1. Faktor motivasi internal mahasiswa

Faktor internal di antaranya ialah kemampuan individu yang berupa kecerdasan dan bakat (yang cenderung stabil), tipe kepribadian, harapan, motivasi internal, kesehatan dan usaha (Gedler, 1992).

Tabel 3. Hasil angket faktor internal (motivasi mahasiswa)

Faktor Internal

f

%

1. Tujuan kuliah di UT untuk menambah ilmu

140

85

2. Mengajukan pertanyaan kepada tutor

114

70

3. Penyediaan waktu membaca modul

154

94

4. Alokasi waktu membaca 2 jam lebih

58

35

5. Ketepatan kehadiran tutorial

92

56

6. Penyebab keterlambatan jauh dari tempat tutorial

108

66

7. Mengulas materi setelah tutorial (di rumah)

139

85

8. Alokasi waktu di rumah untuk mengulas > 1 jam

71

43

9. Capaian target nilai yang diinginkan

86

52

10. Kepuasan terhadap cara tutor dalam tutorial

135

82

Rata-rata = 66,8

Dalam hal ini berdasarkan hasil angket ternyata motivasi internal mahasiswa semester IX terhadap kegiatan tutorial sudah cukup baik dengan rata-rata 66,8%. Namun di beberapa aspek masih mengalami kendala yang cukup berarti. Mahasiswa belum memiliki kesadaran untuk menyediakan waktu membaca modul sebelum kegiatan tutorial, hal ini ditunjukkan dengan hanya 35% mahasiswa yang menyediakan waktu lebih dari 2 jam untuk membaca. Pada kenyataanya kegiatan tutorial sangat membutuhkan kesiapan mahasiswa untuk terlebih dahulu membaca BMP yang telah mereka miliki. Jumlah pertemuan mahasiswa dalam setiap tatap muka tutorial sangat menentukan proses belajar mahasiswa. Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada mahasiswa jumlah kehadiran mahasiswa dalam setiap pertemuan 56%. Hal ini menunjukkan masih ada mahasiswa yang jarang datang dalam setiap pertemuan. Mahasiswa yang tidak mengikuti tatap muka akan mengalami hambatan dalam belajar dan akan mengalami kerlambatan dalam membuat tugas. Tidak sedikit tutor yang memberikan tugas kepada mahasiswa dan dikerjakan dalam kelas, sehingga mahasiswa yang tidak hadir akan ketinggalan dalam pembuatan tugas. Di samping itu, kedisiplinan mahasiswa dalam mengikuti tutorial masih kurang optimal, dari 164 sampel yang diambil ternyata hanya sebagian mahasiswa yang datang tepat waktu (92 orang). Sebagai penyebab utama adalah lokasi tempat mengajar yang relatif jauh dari tempat tutorial/pokjar (66%) dan relatif jauh dari tempat tinggal mahasiswa (24%) dan 10% sisanya adalah disebabkan faktor kondisi alam, hujan dan cuaca yang tidak mendukung.

Permasalahan yang lain juga muncul adalah mahasiswa juga belum secara optimal menyediakan waktu khusus untuk mengulas kembali materi yang diperoleh pada saat tutorial. Mahasiswa sering beranggapan bahwa belajar hanyalah di dalam kelas. Dari data yang penulis kumpulkan walaupun sekitar 85% mahasiswa mahasiswa menyediakan waktu khusus untuk membaca kembali modul dirumah, namun rata-rata mahasiswa hanya menyediakan waktu 0-30 menit saja untuk mengulas pelajaran (57%) sedangkan mahasiswa yang menyediakan waktu lebih dari 1 jam hanya berjumlah 43% saja. Hal ini sesungguhnya dirasakan sangat ironis karena pada dasarnya motivasi internal mahasiswa untuk mau mengulas materi pelajaran cukup tinggi, yaitu 85% menjawab bersedia mempelajari materi pelajaran kembali di rumah setelah memperoleh penjelasan dari tutor di kelas.

Dengan melihat analisis di atas maka dapat disimpulkan beberapa faktor internal yang menghambat proses belajar mahasiswa, yaitu;

1. Kesiapan mahasiswa dalam mengikuti tutorial, kurang menyediakan waktu untuk membaca modul/BMP

2. Rendahnya kedisiplinan mahasiswa menghadiri kegiatan tutorial tepat waktu

3. Tempat tutorial yang relatif jauh dari tempat tinggal mahasiswa

4. Ketersediaan waktu yang cukup bagi mahasiwa untuk mengulas kembali materi pelajaran setelah kegiatan tutorial di kelas.

Dengan demikian juga terdapat faktor-faktor internal yang dapat dikategorikan sebagai faktor pendukung, yaitu;

4.1.1.1. Komitmen mahasiswa kuliah di UT untuk menambah ilmu cukup

Mahasiswa sudah tergugah kesadarannya untuk meningkatkan kualitas dan kualifikasinya tidak sekedar demi ikut-ikutan saja mencari ijazah atau sekedar sertifikat guna memenuhi syarat lulus sertifikasi agar mendapat tunjangan profesi., namun mahasiswa telah memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya di kelas (kompetensi profesionalnya) sekaligus berdampak pada peningkatan kualitas dan hasil belajar pada siswa-siswanya. Penulis memperoleh data 85% responden menyatakan kuliah di UT untuk menuntut ilmu.

4.1.1.2 Antusias mengajukan pertanyaan kepada tutor

Mahasiswa telah menunjukkan keberanian untuk bertanya kepada tutor. Keberanian ini muncul bukan sekedar ikut-ikutan saja, tetapi berlandaskan kebutuhan akan ilmu yang bermanfaat. Hal ini dibuktikan dengan adanya 70% sampel yang selalu mengajukan pertanyaan kepada tutor dalam tutorial.

4.1.1.3 Komitmen menyediakan waktu membaca modul

Pengertian tutorial tidak sama dengan perkuliahan di perguruan tinggi tatap muka biasa. Kegiatan TTM ini membutuhkan kesiapan tidak hanya para tutornya, tetapi juga mahasiswanya. Sistem pendidikan jarak jauh mensyaratkan kemandirian mahasiswa dalam kegiatan PBM, sehingga tutor tidak lagi berperan sebagai seorang dosen, melainkan sebagai pembimbing mahasiswa dalam memahami isi BMP. Penulis menemukan 94% responden menyatakan menyediakan waktu untuk membaca modul.

4.1.1.4 Komitmen mengulas materi setelah tutorial (di rumah)

Pada hakikatnya belajar adalah bagaimana peserta didik berinteraksi dengan sumber belajar sehingga tujuan belajar dapat tercapai. Meskipun demikian, tingkat kemampuan mahasiswa beragam, dan oleh karena itu kemampuan untuk memahami bahan ajar juga berbeda. Di samping ketersediaan waktu tutorial yang dirasakan kurang membuat ketuntasan belajar belum optimal. Untuk itu mahasiswa merasa perlu untuk mengulas kembali mata pelajaran yang diperoleh dari kegiatan tutorial di kelas. Penulis mendapatkan 85% dari keseluruhan responden menjawab mempunyai komitmen untuk mengulas matei pelajaran di rumah.

4.1.1.5 Kepuasan terhadap cara tutor dalam tutorial

Masih ada mahasiswa yang merasa tidak senang dengan seorang tutor maka ikut juga tidak menyenangi matakuliahnya. Dengan meningkatnya rasa puas terhadap tutor diharapkan mahasiswa dapat menyerap penjelasan dari tutor dengan cepat dan meningkatkan daya tahan serapan ilmu. Dalam penelitian ini, penulis memperoleh 82% responden menyatakan puas terhadap cara tutor memberikan tutorial.

4.1.2 Faktor Model/Pendidik (Tutor)

Faktor yang mempengaruhi proses belajar mahasiswa adalah faktor eksternal. Faktor eksternal diantaranya nilai dan norma yang dianut yang bersumber dan masyarakat (budaya) dan agama, bahan ajar, media strategi dan gaya mengajar guru (tutor), waktu belajar mengajar, motivasi eksternal, reinforcement (penguatan), manajemen, status social ekonomi, konflik keluarga dan sebagainya (Gedler, 1992; Partowisasto & Hadisuparto, 1986).

Tabel 4. Hasil angket performa tutor

Performa Tutor

f

%

1. Metode yang digunakan tutor lengkap

164

100

2. Penyampaian Peta konsep

131

80

3. Ketuntasan tutor menjawab pertanyaan mahasiswa

155

95

4. Tugas tutor mengacu pada BMP

163

99

5. Jumlah tugas tutorial

123

75

6. Tingkat ketepatan kehadiran tutor

103

63

7. Frekuensi Kehadiran Tutor

100

60

8. Inisiatif tutor mengaktifan mahasiswa

122

70

9. Cara tutor mengaktifkan mahasiswa dengan bertanya

139

69

10. Penguasaan materi tutorial oleh tutor

100

60

Rata-rata = 77,1%

Dari hasil angket yang dibagikan terhadap penampilan tutor, mahasiswa menyimpulkan performa tutor sudah baik (rata-rata= 77,1%). Akan tetapi masih terdapat kelemahan sisi tutor dari segi tingkat ketepatan kehadiran tutor di lokasi tutorial. Dari 164 mahasiswa sebagai sampel penelitian ini, 63 persen diantaranya menyatakan tingkat ketepatan kehadiran tutor perlu ditingkatkan. Bahkan hanya 60% mahasiswa menyatakan bahwa frekuensi kehadiran tutor sesuai dengan jadwal. Dengan kata lain hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa tutor yang masih belum optimal menjaga frekuensi kehadirannya di kelas.

Disamping itu perlu diperhatikan bahwa tutor harus perlu meningkatkan kemampuan dalam mengaktifkan mahasiswa di kelas. Berdasarkan data di atas dapat di lihat bahwa masih ada tutor belum mengaktifkan mahasiswa secara optimal (30%), selain penguasaan materi tutor terhadap matakuliah yang ditutorialkannya perlu ditingkatkan(60%).

Dengan memperhatikan pembahasan di atas dapat dirumuskan faktor yang menghambat proses belajar mahasiswa dari aspek performa tutor, yaitu;

1. Tingkat ketepatan waktu kehadiran tutor

2. Frekuensi kehadiran tutor

3. Kemampuan tutor mengelola kelas

4. Kemampuan penguasaan materi tutorial

Berdasarkan hasil angket mahasiswa tentang performa tutor, maka dapat dilihat faktor-faktor pendukung sebagai berikut;

4.1.2.1 Metode /Model Pembelajaran dalam tutorial

Salah satu aspek pengaruh belajar dalah kualitas pembelajaran yang dilakukan guru (Wahudin 1997), Penulis menemukan 100% responden menyatakan setuju dengan kelengkapan metode yang digunakan oleh para tutor dalam kegiatan tutorial. Hal ini menunjukkan bahwa tutor sudah melakukan kegiatan tutorial dengan bersungguh-sungguh dengan menerapkan berbagai teknik yang diperoleh dari pelatihan-pelatihan tutorial dan pembekalan tutor di awal semester.

4.1.2.2 Penyampaian Peta konsep

Peta Konsep berguna untuk mendorong aktivitas yang kreatif, mendorong peserta didik untuk berpikir reflektif, menyajikan suatu struktural secara hirarkis (Novak dan Gowin :1985). Dalam setiap pembekalan tutor, tutor diminta untuk selalu menyiapkan kelengkapan akademis tutorial termasuk adalah Peta Konsep. Penulis menemukan 80 % responden yang menyatakan bahwa tutor selalu memberikan peta konsep dalam kegiatan tutorial. Hal ini juga menunjukkan komitmen para tutor dalam menjalankan kegiatan tutorial tetap mengacu pada prosedur yang ada.

4.1.2.3 Ketuntasan tutor menjawab pertanyaan mahasiswa

Tingkat kepuasan mahasiswa terhadap salah satunya dipengaruhi oleh ketuntasan tutor dalam menjawab pertanyaan mahasiswa. Walau masih ada beberapa mahasiswa yang merasa tutor belum tuntas menjawab namun penulis melihat terdapat 95% responden yang menyatakan puas terhadap jawaban tutor ketika ditanya.

4.1.2.4 Tugas tutor mengacu pada BMP

Sesuai dengan acuan kegiatan tutorial bahwa tutor dalam memberikan materi tutorial harus selalu mengacu pada modul/BMP. Hal ini disebabkan seluruh materi UAS juga diambil dari BMP matakuliah. Tutor dilarang memberikan tambahan buku/modul selain ketentuan tersebut. Penulis memperoleh 99% tugas diambil dari BMP

4.1.2.5 Jumlah tugas tutorial

Berdasarkan Prosedur Pengelolaan Tutorial Tatap Muka Wajib Pendas Simintas Universitas Terbuka (2008), dinyatakan bahwa Tugas tutorial: adalah tugas yang diberikan oleh Tutor kepada mahasiswa di dalam atau di luar jam tutorial. Setiap matakuliah yang ditutorialkan terdiri dari tiga tugas tutorial pada pertemuan 3, 5 dan 7, baik dalam bentuk tes uraian maupun tugas praktek. Penulis menemukan 75% responden menyatakan jumlah tugas yang diberikan oleh para tutor memenuhi kreteria tersebut.

4.1.3 Faktor Penunjang Kegiatan Tutorial

Faktor eksternal lain yang mempengaruhi proses belajar mahasiswa yang muncul adalah faktor penunjang kegiatan tutorial. Gedler, 1992 Partowisasto & Hadisuparto, 1986 menyatakan bahwa salah satu dari faktor eksternal diantaranya nilai dan norma yang dianut yang bersumber dan masyarakat (budaya) dan agama, bahan ajar, media strategi dan gaya mengajar guru (tutor), waktu belajar mengajar, motivasi eksternal, reinforcement (penguatan), manajemen, status social ekonomi, konflik keluarga dan sebagainya.

Tabel 5. Hasil angket penunjang kegiatan tutorial

Penunjang proses tutorial

f

%

1. Bahasa BMP mudah dipahami

139

85

2. Materi dalam BMP mudah dipelajari

109

66

3. Penampilan BMP yang dibaca

147

90

4. Pemerolehan BMP tepat waktu

151

92

5. Ruang tutorial yang memadai

136

83

6. Jadwal tutorial disusun mendukung PBM

161

98

7. Kesesuaian penunjukkan tutor

157

96

8. Kualifikasi tutor (S2-S3)

106

65

9. Hubungan interaktif dengan tutor

126

74

10. Pemanfaatan media pembelajaran

161

98

Rata-rata = 84,7%

Faktor eksternal lain yang mempengaruhi proses belajar mahasiswa yang muncul adalah faktor penunjang kegiatan tutorial. Gedler, 1992 Partowisasto & Hadisuparto, 1986 menyatakan bahwa salah satu dari faktor eksternal diantaranya nilai dan norma yang dianut yang bersumber dan masyarakat (budaya) dan agama, bahan ajar, media strategi dan gaya mengajar guru (tutor), waktu belajar mengajar, motivasi eksternal, reinforcement (penguatan), manajemen, status social ekonomi, konflik keluarga dan sebagainya.

Faktor ini dinilai mahasiswa sudah sangat baik yaitu rata-rata 84,7%. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak mengalami permasalahan yang berarti dari sarana kegiatan tutorial. Akan tetapi penulis masih menemukan beberapa temuan yang dapat dikategorikan sebagai penghambat kegiatan tutorial.

4.1.3.1 Materi dalam BMP

Dari sisi materi BMP ternyata hanya 66% mahasiswa menyatakan mudah dipelajari, sisanya sejumlah 34%menyatakan sulit dipelajari. Hal ini senada dengan hasil angket tentang kurang optimalnya mahasiswa untuk menyediakan waktu untuk membaca modul. Anggapan “sulit” dipahami oleh beberapa mahasiswa tadi merupakan dampak dari kurangnya frekuensi mereka membaca.

4.1.3.2. Media Pembelajaran

Di samping itu ternyata kegiatan tutorial masih belum dilengkapi dengan media pembelajaran penunjang seperti OHP atau pun media gambar lainnya. Hampir 100% tutor hanya menggunakan modul dalam memberikan tutorial. Hal ini, tentu saja berdampak cukup signifikan terhadap keaktifan mahasiswa dalam kegiatan tutorial. Walaupun menurut pandangan mahasiswa menyatakan bahwa 65% tutor mempunyai latar belakang pendidikan S2-S3.

4.2 Sebaran Nilai

Data sebaran nilai diambil dari database SRS Pendas dengan menggunakan program microsft access 2003, penulis mentabulasikan data sebaran nilai mahasiswa program pendas 2008.1 (matakuliah mahasiswa tersebut diambil ketika masih semester 8) untuk 3 matakuliah yang telah disediakan sarana tutorialnya oleh UT Pusat, yaitu :

Tabel 6. Daftar matakuliah bertutorial tatap muka mahasiswa semester 9 di 2008.1

No

Nama Matakuliah

Kode

1

Penulisan Karya Ilmiah

PDGK4402

2

Materi dan Pembelajaran IPS SD

PDGK4405

3

Pembelajaran Matematika SD

PDGK4406

Sumber = Katalog UT, 2008

Gambar 1. Sebaran Nilai Matakuliah PDGK4402 (Penulisan Karya Ilmiah)

Sumber : Database SRS Pendas versi ; 09-06 (2008-02) tahun 2008

Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa konsentrasi nilai mahasiswa berkisar di nilai B (48%) dan C (32%), dan ini menunjukkan bahwa prestasi mahasiswa sudah baik (95,12% lulus dengan rata-rata C). Namun dari 164 responden dalam penelitian ini masih terdapat sejumlah mahasiswa yang mempunyai hasil belajar yang tidak baik, yaitu 4% tidak lulus.

Gambar 2. Sebaran Nilai Mataluliah PDGK 4405, Materi dan Pembelajaran IPS SD

Sumber : Database SRS Pendas versi ; 09-06 (2008-02) tahun 2008

Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa penyebaran nilai mahasiswa masih berada pada nilai B (45%) dan C (48%), walau sebenarnya nilai C masih mendominasi untuk matakuliah ini tapi tingkat kelulusan lebih baik dari matakuliah PDGK4402, yaitu 98,17%. Dari 164 sampel yang diambil ternyata hanya 1% saja yang tidak lulus.

Gambar 3. Sebaran Nilai Matakuliah PDGK 4406, Pembelajaran Matematika SD

Sumber : Database SRS Pendas versi ; 09-06 (2008-02) tahun 2008

Pada grafik matakuliah PDGK4406 ini dari 164 responden ternyata terlihat nilai C sangat mendominasi perolehan nilai mahasiswa (52%), jauh mengungguli nilai A (10%) dan B (32%). Namun tingkat kelulusan mahasiswa tidak sebaik matakuliah sebelumnya, 95,7%.

Secara umum sebaran nilai untuk ketiga matakuliah adalah sebagai berikut;

Tabel 7. Rekapitulasi Sebaran Keseluruhan Nilai Matakuliah

A

B

C

D

E

Tingkat Kelulusan :

51

207

216

10

8

10%

42%

44%

2%

2%

96,34 %

Dari total 492 jumlah nilai yang menjadi sampel dari 3 matakuliah dalam penelitian ini dapat dilihat 44% masih didominasi oleh nilai C. Ini menunjukkan tingkat keberhasilan belajar mahasiswa masih rata-rata C.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari kedua kelompok pembahasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar mahasiswa dalam pencapaian hasil belajar yang maksimal, terutama yang terjadi di program pendas semester 9 FKIP UPBJJ-UT Bengkulu. Faktor-faktor dominan adalah (1) Motivasi internal mahasiswa, (2) Performa (penampilan tutor), dan (3) Penunjang Kegiatan tutorial. Rata-rata paling ekstrim adalah faktor motivasi internal mahasiswa dalam melakukan kegiatan belajar pada tutorial tatap muka (66,8%), disusul oleh performa tutor sejumlah 77,1% dan faktor penunjang kegiatan tutorial 84,7%.

Sebaran nilai dari tiga matakuliah yang tersedia tutorial tatap muka rata-rata memperoleh tingkat kelulusan (sampai dengan nilai C) adalah 96,34% dimana konsenterasi masih berkisar di nilai C (44%). Hal ini berarti bahwa proses belajar mahasiswa sangat berpengaruh pada pencapaian hasil belajar yang maksimal.

5.2 Saran

Menyingkapi permasalahan kesiapan mahasiswa dalam mengikuti tutorial sebaiknya mahasiswa harus dihimbau untuk menyediakan waktu untuk membaca modul/BMP atau dilakukan berbagai inovasi tutorial yang membuat mahasiswa dapat meluangkan waktu untuk membaca BMP. Selain itu dengan rendahnya kedisiplinan mahasiswa menghadiri kegiatan tutorial tepat waktu harus dicarikan solusi dengan menentukan tempat tutorial yang relatif dapat dijangkau dari tempat tinggal mahasiswa. Ketersediaan waktu yang cukup bagi mahasiswa untuk mengulas kembali materi pelajaran setelah kegiatan tutorial di kelas dapat diatasi dengan peningkatan ketepatan waktu kehadiran tutor dan frekuensi kehadiran tutor serta tutor diberikan pembekalan yang sesuai untuk pengelolaan kelas tutorial dan penguasaan materi tutorial.

DAFTAR PUSTAKA

Ary, D.; Jacobs, L.C.; & Razauiel, A. (1972). Introduction in research in education, New York: Holt Rinehart and Winston.

Best, J. (1997). Research ii education (3rd Ed). Englewood Cliff, N.J: Prentice- Hall.
Gredler, M.E. (1992). Learning and instruction theory in to practice. New York:
Macmilan.

….

Lampiran II

Personalia Penelitian

I. Ketua Peneliti

a. Nama lengkap dan gelar : Yusrizal, S.Pd
b. NIP : 132300829
c. Pangkat/Jabatan : III a/Penata Muda
d. Alamat Kerja : Jl. Cimanuk Km 6,5 Bengkulu
e. Waktu yang disediakan : 10 jam perminggu

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: